Aku bukan orang yang suka roti. Situasilah yang memaksa aku harus memakan roti. Alasannya tidak gampang basi, mudah mencari, enak dan tidak repot, berbeda dengan nasi. Mencari makanan nasi ke warung dari tempat tinggalku di kota itu jauh, jika berjalan kaki sampai di rumah sudah lapar lagi. Semula aku sering memakan roti hanya di pagi hari, pengganti nasi sebagaimana kebiasaanku sehari-hari. Di kemudian hari aku juga makan roti itu tidak hanya di pagi hari. Setelah pulang dari kantor, sebelum sampai di lapangan badminton aku mampir ke toko roti itu, membeli beberapa potong roti. Aku makan sepotong roti dan kue basah sebagai penambah energi yang kira-kira cukup untuk bertahan dua sampai tiga jam, sisanya dimakan esok pagi.
Toko roti langgananku merupakan toko roti paling terkenal di kota itu, pastilah semua orang mengenalnya. Setiap kapal besar datang atau kapal putih, biasa orang menyebutnya, yang mampu mengangkut ribuan orang, toko roti itu ikut ramai pembeli, penumpang kapal yang turun membeli roti. Kelezatannya tidak hanya dikenal oleh orang satu pulau, tetapi dari pulau-pulau lain. Penumpang kapal yang singgah membeli roti untuk oleh-oleh kerabat, tidak hanya dimakan sendiri.
Ada beberapa usaha pembuatan roti di kota itu, tetapi paling lezat adalah roti buatan toko langgananku. Toko roti lain yang dibuat dengan teknologi yang lebih modern dan higinis, tidak mampu menyaingi kelezatannya, untuk ukuran di kota itu. Jika kau singgah di kota Biak, tanyakan ke siapa saja, “Roti apa yang paling lezat dan terkenal?” pasti jawabannya adalah roti langgananku itu.
Lezat, orang-orang yang aku temui memberi komentar rasa roti. Selain mengomentari kelezatan roti, mereka menceritakan mitos tentang toko roti, proses pembuatan dan bahan-bahan roti itu kepadaku. Seru, ceritanya. Setelah mendapat banyak masukan cerita dari banyak orang akhirnya aku dapat menyimpukan cerita yang benar dan salah.
Selamat pagi Pak atau selamat siang Pak atau selamat malam Pak… begitu pelayan toko itu ramah menyapaku dengan ucapan tersebut pada waktu yang sesuai, saat akan membeli roti. Beruntung pada suatu waktu aku bisa bertemu lalu ngobrol dengan pemilik toko itu. Aku memuji kelezatan roti buatannya sekaligus mengatakan mitos yang selama ini aku dengar tentang roti dan tokonya. Ah… ternyata mitos itu kebanyakan salah. Dari penuturan pemilik toko, resep roti merk yang satu dan merk lain hampir sama, pembeda roti menjadi lezat adalah emosi orang-orang yang membuat roti.
Luar biasa…
Pemilik toko roti memperhatikan emosi karyawannya. Pada saat datang karyawan harus kelihatan giginya, entah kuning, putih atau merah karena makan pinang. Jika ekspresi muka tidak senyum, ditanya apa masalahnya. Jika sakit disuruh istirahat atau berobat dulu sampai bisa datang membawa senyum ke tempat kerja. Suasana kekeluargaan dan rasa kemanusiaan sangat terasa, tidak hanya hubungan kerja antara buruh dan majikan.
Rasional prinsip pemilik toko roti itu. Andaikan mencampur resep bahan roti dalam suasana hati tidak senang, bisa saja kebanyakan garam atau gula, bahkan gosong yang mengakibatkan rasa roti tidak enak. Proses pembuatan masih tradisional, mulai dari pencampuran resep hingga proses pemasakan yang memakai kompor minyak tanah dan sebagian saja yang memakai kompor elpiji. Tidak seperti pada proses pembuatan roti dengan alat/mesin modern yang memakai pengatur waktu dan suhu yang sudah ditentukan, disini semua dikerjakan oleh manusia yang dipengaruhi oleh perasaan.
Setelah tahu seluk-beluk proses pembuatan roti langgananku, saat makan roti perasaanku terpengaruh juga. Jika rasa roti berbeda dari biasanya, misalkan terlalu manis, asin atau agak gosong, imajinasiku terbawa ke kondisi emosional pembuat roti. Ah… Menebak-nebak, mungkin dia lagi agak sakit, ada masalah di keluarganya atau tebakan lain yang kira-kira cocok antara emosi dan hasil roti buatannya.
Andaikan kita dalam bekerja memulainya dengan hati senang dan senyum tentu akan menghasilkan output yang baik juga. Mungkinkah, para pemimpin, pemilik perusahaan, kepala kantor pemerintah di negara kita memperhatikan emosi bawahan dan dapat membuat bawahan mengawali kerja dengan senyum sebagaimana yang dilakukan pemilik toko roti di atas?
(n@n_170409)
Jumat, 17 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)